Di masa pandemi, sebagian masyarakat telah mendapatkan dosis vaksinasi Covid-19, mulai dari Sinovac, AstraZeneca, Sinopharm, dan Moderna yang kini digunakan sebagai dosis ketiga vaksin untuk para nakes – dan juga diberikan bagi masyarakat umum yang belum mendapat dosis vaksinasi sama sekali. Tak perlu khawatir, sejumlah vaksin tersebut sudah mendapatkan izin penggunaan dari WHO.

Namun, setelah vaksinasi Covid-19, masyarakat diimbau untuk terus menjalani protokol kesehatan 5M. Pasalnya, kemungkinan terinfeksi virus corona masih tetap ada meskipun sudah diberi vaksin dosis penuh. Untuk itu, jangan sampai lengah, dari sikap lengah tersebut ada kemungkinan infeksi virus yang mengintai.

Dengan adanya berbagai macam merek vaksin, membuat tak sedikit masyarakat yang lebih memilih-milih vaksin yang akan diterimanya. Mengenai hal ini, dalam kondisi tertentu memang diperbolehkan, bahkan harus dilakukan. Apalagi, ketika ada kontradindikasi – atau rentan mengalami efek samping pada vaksin tertentu, sehingga perlu menggunakan jenis vaksin yang lebih cocok terhadap kondisi tubuh.

Tetapi, pada kondisi normal, memilih-milih vaksin tidak dianjurkan. Bagi yang tidak punya komorbid – atau kerentanan tertentu, vaksin terbaik merupakan vaksin yang tersedia dan paling mudah diakses. Tujuan vaksinasi tidak hanya untuk perlindungan diri sendiri, melainkan orang di sekitar. Dengan vaksin, kekebalan kelompok pun dapat lebih mudah tercapai.

Masih berkaitan dengan pilih-pilih vaksin, memang siapa saja sih yang dianjurkan untuk memilih vaksin tertentu? Berikut ini ulasannya.

 

 

Ibu Hamil Perlu Memerhatikan Jenis Vaksin Tertentu

Credit Image - halodoc.com

Dilansir dari Detik, Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) merekomendasikan vaksin Covid-19 dengan platform inactivated dan mRNA untuk ibu hamil. Termasuk dalam platform inactivated adalah Sinovac dan Sinopharm, sedangkan mRNA mencakup Pfizer dan Moderna.

Ada pun salah satu pertimbangan vaksin inactivated menjadi pilihan bagi ibu hamil, yaitu tidak menimbulkan kejadian ikutan pasca imunisasi atau KIPI yang berat. Dua hal tersebutlah yang mendasari POGI merekomendasikan ibu hamil untuk divaksin Covid-19, termasuk dengan jenis Sinovac.

 

Anak Remaja Usia 12-17 Tahun

Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional atau Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) menetapkan bahwa anak usia 12-17 tahun di Indonesia bisa divaksinasi menggunakan vaksin Sinovac. Selain itu, BPOM RI juga telah menerbitkan emergency use authorization (EUA) bagi vaksin Sinovac untuk usia 12-17 tahun.

Sementara, di luar negeri, Badan Obat Eropa (EMA) telah memberikan izin penggunaan vaksin Moderna untuk anak usia 12 tahun ke atas, karena efek samping yang ditimbulkan bersifat ringan. Meski demikian, Plt Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan RI, Maxi Rein Rondonowu, menegaskan sejauh ini untuk usia anak 12-17 tahun di Indonesia belum bisa menggunakan Moderna.

 

Pengidap Komorbid Juga Boleh Pilih-Pilih Vaksin

Credit Image - infoanggaran.com

Masih dilansir dari sumber yang sama, Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) memberikan rekomendasi yang berkaitan dengan pemberian vaksinasi kepada orang dengan komorbid atau penyakit penyerta.

Dalam hal ini, direkomendasikan untuk memberi vaksin Sinovac bagi masyarakat yang memiliki komorbid tertentu. Dikatakan bahwa orang yang memiliki riwayat alergi – hingga penyakit paru termasuk dalam kelompok yang boleh menerima dosis vaksin Sinovac.

 

Penduduk Lansia

Yang terakhir, ada pula lansia yang boleh memilih-milih vaksin. BPOM telah menerbitkan EUA bagi vaksin Sinovac untuk diberikan pada lansia usia 60 tahun ke atas. Namun, BPOM menyarankan untuk berhati-hati bagi lansia yang berusia di atas 70 tahun.

Kepala BPOM RI Penny K Lukito menyebut tidak ada larangan untuk memberikan vaksin Covid-19 buatan Sinovac, pada lansia di atas usia 70 tahun. Meski begitu, ia menyarankan untuk berhati-hati dan memberikan pendampingan khusus ketika  proses screening.

 

Risiko Terpapar Virus Masih Ada, Jadi Tetap Terapkan Prokes!

Credit Image - sehatq.com

Menurut pakar vaksin dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dr Kate O’Brien menjelaskan bahwa pada dasarnya vaksin bekerja dengan cara mengenalkan sebagian dari virus – untuk dikenali oleh imunitas tubuh. Harapannya, kekebalan dapat dengan cepat mengindentifikasi dan melawan, jika virus aslinya datang menyerang tubuh.

Tapi yang perlu diketahui, tidak ada vaksin yang dapat bekerja 100 persen efektif – terhadap 100 persen penerimanya. Artinya, respons imun setiap orang bisa berbeda-beda terhadap vaksin. Dari hal ini, tak menutup kemungkinan penerima vaksin masih bisa terinfeksi virus.

Dalam proses imunitas mengenai virus penyebab penyakit, tubuh bisa saja membutuhkan paparan dosis yang lebih banyak dan konstan. Meski akhirnya vaksin bukanlah kunci utama tubuh terhindar dari Covid-19 – namun, dengan mendapat vaksinasi tetap bisa mengurangi kemungkinan tingkat keparahan penyakit. Jadi, bisa tetap terinfeksi, namun dengan gejala yang ringan.

Jadi, setelah mendapatkan vaksin, protokol kesehatan masih harus dijalani. Namun, bukan berarti vaksinasi tidak bermanfaat, melainkan dengan vaksin risiko terinfeksi dapat semakin diminimalisir – dan, jika pun terkena penyakit maka gejala yang dirasakan tidak berat, atau bahkan tidak berisiko mengalami kematian.

Untuk itu, masyarakat terus diimbau menerapkan protokol kesehatan setelah mendapat vaksin, yaitu memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas – hindari bepergian kecuali untuk urusan mendesak.

 

Jaga Selalu Kekebalan Untuk Mencegah Paparan Virus!

Yang tidak kalah penting, selain menerapkan protokol kesehatan, menjaga imunitas setelah vaksinasi juga penting dilakukan. Mudahnya, masyarakat sangat dianjurkan menjalani gaya hidup sehat, seperti memiliki pola makan bergizi seimbang, rutin berolahraga — aktif bergerak bisa kurangi risiko infeksi virus, miliki waktu tidur yang cukup dan berkualitas, serta kelola stres dengan baik.

Kemudian, mengonsumsi suplemen setelah vaksin juga masih sangat dianjurkan. Adapun suplemen yang baik dikonsumsi, yaitu suplemen jenis imunomodulator. Ini merupakan jenis suplemen yang dapat membantu meningkatkan pembentukan sistem imun, atau menahan laju pembentukan sistem imun ketika tubuh merasa sudah terbentuk sistem imun dalam jumlah cukup.

Untuk suplemen yang direkomendasikan – kamu dapat konsumsi Enervon-C yang memiliki kandungan lengkap, yaitu Vitamin C, Vitamin B Kompleks (Vitamin B1, Vitamin B2, Vitamin B6, Vitamin B12), Niacinamide, dan Kalsium Pantotenat untuk menjaga daya tahan tubuh agar tidak mudah sakit.

Minum Enervon-C Effervescent — dengan kandungan Vitamin C lebih tinggi, yaitu 1000 mg untuk berikan perlindungan ekstra, terutama kamu yang sudah sering beraktivitas di luar rumah.

Selain itu, bagi yang memiliki masalah lambung sensitif, direkomendasikan mengonsumsi Enervon Active – dengan kandungan non-acidic Vitamin C 500 mg, Vitamin B Kompleks (Vitamin B1, Vitamin B2, Vitamin B6, Vitamin B12), Niacinamide, Kalsium Pantotenat, dan Zinc dapat menjaga stamina tubuh, sekalius mengoptimalkan kinerja sistem imun.

Kandungan vitamin B kompleks dalam Enervon-C dan Enervon Active juga dapat membantu proses metabolisme, sehingga tubuh bisa mengolah makanan yang dikonsumsi, kemudian diubah menjadi sumber energi yang lebih tahan lama. Manfaat yang satu ini tentunya bisa membuat makin produktif dalam melakukan aktivitas harian.

 

Itulah keempat kelompok yang boleh memilih-milih merek vaksin Covid-19. Bagi yang bukan termasuk kelompok di atas, ada baiknya tetap menerima jenis vaksin apapun, karena semua vaksin dapat memberikan manfaat yang sama!

 

 

Featured Image - mydr.com.au

Source - detik.com