Sebagian Besar Orang Menyangkal Adanya Pandemi. Apa Alasannya?
Beberapa lama terakhir ini, sepertinya cukup banyak orang yang masih meragukan dan mengeyel mengenai bagian saluran pernapasan tubuh ini nyata adanya. Di Indonesia sendiri, angka kasus positif corona masih terus terjadi – tapi, angka pasien yang sembuh pun juga terus bertambah.
Meski jumlah angka positif masih terus terjadi dan bukti- bukti diperlihatkan, masih banyak individu yang merasa enggan untuk percaya akan adanya virus corona. Hal ini sendiri didasari oleh sejumlah alasan dan akhirnya membuat orang tidak menerima kenyataan dan menyangkal terkait Covid-19.
Alasan Sebagian Besar Orang Menyangkal Adanya Pandemi Corona

Sebagian Besar Orang Menyangkal Adanya Pandemi. Apa Alasannya? / Credit: kids.grid.id
Psikolog Eve dan Mark Whitmore menjelaskan bahwa dalam psikologi, kondisi ini disebut dengan denial atau penyangkalan yang dianggap sebagai alat pertahanan.
Penolakan ini dijadikan sebagai pembelaan diri dari kecemasan. Karena, ketika seseorang berada dalam kecemasan, hal tersebut tentu dianggap sebagai ancaman. Kemudian, ia mengembangkan strategi untuk melindungi diri sendiri, menciptakan rasa aman, dan keselamatannya.
Salah satu startegi tersebut, yaitu dengan menyangkal apapun sumber ancaman tersebut. Dalam kasus ini, pandemi dianggap sebagai tipuan, rekayasa, dan situasi ini tidak benar- benar ada.
Penyangkalan terkait Covid-19 banyak terjadi karena virus ini merupakan jenis virus baru. Sehingga, banyak berbagai informasi baru yang cepat berubah dan sering kali bersifat kontradiktif.
Penyangkalan Terhadap Suatu Kondisi Dapat Berbahaya

Sebagian Besar Orang Menyangkal Adanya Pandemi. Apa Alasannya? / Credit: news.sky.com
Dalam kasus ini, penyangkalan terhadap pandemi Covid-19, justru dapat berbahaya. Alih-alih, merasa tenang, individu yang mengabaikan keberadaan virus ini dapat mengalami maladaptif atau kesalahan dalam beradaptasi. Dan peluang seseorang terkena ancaman, seperti Covid-19, dapat meningkat.
Misal, seseorang yang melakukan penyangkalan, cenderung tidak mengambilpenggunaan masker, tidak menjaga kesehatan, atau menerima informasi yang salah. Tentu saja, sejumlah tindakan tersebut dapat meningkatkan risiko orang tersebut terpapar virus corona.
Untuk mengubah pandangan seseorang, Mark Whitmore, merekomendasikan untuk melakukannya secara bertahap. Mulai dengan memberikan informasi yang factual, serta beri tahu hal apa saja yang dapat dilakukan untuk melindungi diri mereka sendiri.
Ketika orang tersebut mulai menerima kebenaran, tingkatkan intensitas informasi yang realistis, hingga mereka sepenuhnya dapat menerima kebenaran yang ada.
Lalu, berikan contoh langsung yang dapat membuat mereka percaya soal informasi yang kamu berikan. Misalnya, selalu menggunakan masker, menolak ajakan berpergian kecuali urusan mendesak, rutin cuci tangan, dan menerapkan jaga jarak.
Featured Image - globalnews.ca
Source - cnnindonesia.com





