Parental Burnout: Lelah dan Stres yang Kerap Dialami Orangtua Selama Di Rumah

Parental Burnout: Lelah dan Stres yang Kerap Dialami Orangtua Selama Di Rumah

font size A Ǎ

Selama pandemi, sebagian besar orangtua harus bekerja di rumah atau work from home – berdasarkan kebijakan perusahaan masing- masing. Ditambah, dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang masih berlaku sekarang. Mau tak mau, banyak aktivitas yang sebaiknya dilakukan di rumah saja.

Begitu pula dengan anak – yang masih menjalani school from home. Meski demikian, dengan adanya orangtua di rumah, belum tentu bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama anak. Pasalnya, orangtua pun memiliki kewajiban lain yang mesti dijalani.

Beberapa bulan di rumah bersama anak, sekaligus harus menjadi ‘guru’ dadakan ketika school from home. Kerap menimbulkan rasa stres pada orangtua. Layaknya orang yang bekerja dan mengalami burnout – orangtua pun dapat merasa sangat lelah. Ini disebut dengan parental burnout.

 

 

 

Parental Burnout: Lelah dan Stres yang Kerap Dialami Orangtua Selama Di Rumah

Parental Burnout: Lelah dan Stres yang Kerap Dialami Orangtua Selama Di Rumah

Parental Burnout: Lelah dan Stres yang Kerap Dialami Orangtua Selama Di Rumah  / Credit: mycanopy.org

Dilansir dari CNN Indonesia, Psikolog anak Saskhya Aulia Prima, mengatakan bahwa beberapa tanda parental burnout, diawali dengan merasa lelah secara fisik dan mental. Bahkan, dalam sebagian kasus, orangtua merasa berjarak dengan anak.

Parental burnout – kerap menimbulkan rasa tak lagi pantas jadi orangtua dan sangat terbebani. Karena, mengasuh anak sudah tidak terasa menyenangkan dan memberi kebahagiaan pada orangtua.  Kalau sudah begini, cara berinteraksi sama anak pun akan berubah. Seperti, lebih mudah marah.

Kalau hal ini terjadi, cobalah untuk beristirahat sejenak dan cari waktu sendiri demi melepas rasa penat. Mulai dengan menarik napas panjang – ini dapat berfungsi untuk “menipu” otak yang berpikir kemarahan sudah reda karena napas kembali teratur.

Jadi, ketika orangtua sudah ada keinginan untuk marah, tarik napas dalam dan hembuskan pelan- pelan. Lakukan cara ini sampai lima kali, hingga napas kembali stabil. Setelah itu, baru hadapi anak dalam keadaan tenang.

Ada pula cara lainnya untuk menenangkan diri, yaitu minum segelas air. Dan, berbiacara kepada diri sendiri untuk tidak “meledak. Bisa juga dengan menghitung mundur sampai emosi kembali stabil.

Selain itu, beri rasa belas kasih pada diri sendiri. Hargai sekecil apapun pencapaian yang sudah diraih, nikmati segala ketidaksempurnaan. Hindari merasa “kurang” dalam cara mendidik anak, terlebih di masa pandemi.

Cobalah memeluk diri sendiri, dan ucapkan terima kasih pada diri. Karena, sudah berhasil melewati hari- hari tanpa kendala. Cari hal yang dapat disyukuri selama kondisi tak menentu seperti ini.

 

 

 

Featured Image - bbc.co.uk

Source - cnnindonesia.com


Post Comment

Please login to comment

Comments

NO COMMENT YET, BE THE FIRST!