Seperti diketahui, melemahkan imunitas, sehingga lebih sulit untuk melawan infeksi.

Hal ini penting untuk diwaspadai, pasalnya ada berbagai penyakit bawaan yang dapat memengaruhi kondisi ketika terinfeksi Covid-19 – biasanya, pasien rentan meninggal dunia akibat virus corona dan komplikasi lainnya.

Lantas, apa saja sih sejumlah penyakit bawaan yang dapat memperparah gejala Covid-19? Dan, bagaimana kondisi tersebut dapat memperburuk kondisi kesehatan pasien?  Untuk ulasan lengkapnya – silahkan simak di bawah ini.

 

 

1. Tekanan Darah Tinggi – Hipertensi

Credit Image - megakulim.com.my

Hipertensi merupakan kondisi kesehatan yang ditandai dengan tingginya tekanan darah. Perlu diketahui, ada dua macam tekanan darah, yakni sistolik – yang menggambarkan tekanan saat jantung berdetak, atau ketika otot berkontrasi. Kemudian, ada juga diastolik – angka bawah yang merupakan tekanan dalam pembuluh darah di antara detak jantung.

Ada pun batas ideal tekanan darah normal orang dewasa adalah 120/80 mmHg. Jika nilai sistolik di atas 140 dan diastolik di atas 90, maka seseorang bisa didiagnosa menderita hipertensi. Menurut Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan RI terdapat dua faktor risiko yang menyebabkan hipetensi, yaitu faktor risiko yang tidak bisa dimodifikasi seperti usia, jenis kelamin dan riwayat kesehatan keluarga.

Selain itu, terdapat faktor risiko yang bisa dikendalikan – atau dimodifikasi, seperti obesitas, kebiasaan merokok, konsumsi garam berlebih, kurang aktivitas fisik, maupun stres.

Hati-hati, sebab penderita komorbid ini rentan terinfeksi virus corona. Pasalnya, hipertensi dapat membuat kekebalan tubuh menjadi lemah, sehingga semakin sulit untuk melawan infeksi virus. Jadi, jika hipertensi tak segera diobati – atau dikontrol, maka semakin tinggi pula risiko terinfeksi Covid-19.

 

2. Penyakit Kardiovaskular

Selanjutnya, penyakit kardiovaskular juga menjadi komorbid berbahaya pada pasien Covid-19. Kondisi tersebut merupakan penyakit yang terjadi karena adanya gangguan pada jantung dan pembuluh darah. Organ jantung yang sakit memiliki masalah dalam proses memompa darah – dan hal inilah yang menyebabkan sistem kerja jantung menjadi terbebani.

Tak hanya stroke, banyak penyakit lain yang disebabkan oleh masalah sistem kardiovaskular. Diantaranya penyakit jantung koroner, aritmia, serangan jantung, gagal jantung, Deep Vein Thrombosis (DVT), kardiomiopati dan penyakit jantung bawaan.

Ada pun faktor yang bisa menyebabkan timbulnya penyakit kardiovaskular, mulai dari usia, jenis kelamin, keturunan, obesitas, tekanan darah tinggi, stres serta pola hidup tidak sehat.

Penderita komorbid ini juga rentan terinfeksi Covid-19, karena organ jantung yang sudah mengalami abnormalitas. Virus corona memang lebih menyerang sistem pernapasan, namun juga berpengaruh pada jantung. Apalagi, jika organ jantung yang dimiliki dalam kondisi sakit – dan harus bekerja keras untuk memompa darah, serta menyalurkan oksigen ke seluruh tubuh.

Ketika seorang penderita penyakit kardiovaskular terinfeksi Covid-19, gejala yang muncul seperti demam, sesak napas, dan batuk akan membuat kondisi tubuh semakin lelah. Hal inilah yang menyebabkan pasien dengan penyakit kardiovaskular kerap mengalami perburukan kondisi.

Jadi, jika tanpa infeksi saja kemampuan fisik penderita komorbid ini sudah menurun, apalagi ditambah dengan infeksi Covid-19.

 

3. Komorbid Diabetes

Credit Image - bbc.com

Seperti diketahui, diabetes juga berhasil masuk ke dalam lima besar penyakit penyerta Covid-19 yang berbahaya. Diabetes merupakan jenis penyakit kronis yang memiliki ciri, seperti tingginya kadar gula – atau glukosa darah. Glukosa tersebut akan menumpuk di dalam darah, akibat tidak dapat tersera dengan baik oleh sel-sel tubuh.

Jika tidak dikontrol, diabetes bisa menyebabkan kerusakan pada organ tubuh, sekaligus melemahkan sistem imun. Pastinya, hal ini sangat berbahaya, karena dapat menyebabkan pasien mengalami kondisi komplikasi.

Penyakit diabetes bisa disebabkan oleh beberapa hal, seperti tidak melakukan pemeriksaan gula darah secara teratur, hipertensi – atau darah tinggi, pola makan yang tidak memiliki nutrisi seimbang, kurang aktivitas fisik, mengonsumsi makanan dan minuman tinggi gula, serta ada riwayat kesehatan keluarga dengan diabetes.

Infeksi Covid-19 dapat meningkatkan peradangan – atau pembengkakan internal pada pasien dengan diabetes. Selain itu, pasien juga berisiko mengalami komplikasi yang lebih berat ketika terinfeksi virus corona.

Hal yang bisa dilakukan jika penderita diabetes terinfeksi Covid-19, yakni mengecek gula darah secara rutin setiap empat jam sekali termasuk saat malam hari. Lalu, konsumsi obat-obatan tepat waktu sesuai dengan resep dokter – bahkan, sebenarnya pasien Covid-19 dengan diabetes bisa saja dirawat di rumah berdasarkan saran dokter, selama kadar gula darah terkendali.

 

4. Penyakit Paru

Paru-paru merupakan organ vital di dalam tubuh manusia yang berperan dalam sistem pernapasan. Diketahui, Covid-19 menyerang saluran pernapasan, sehingga tak sedikit jumlah pasien yang bisa merasakan sesak napas. Ada pun beberapa jenis penyakit yang bisa menyerang paru-paru diantaranya asma, pneumonia, tuberkolosis, bronkitis dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).

Biasanya, penyakit ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti adanya alergi debu, polusi udara, bahan kimia berbahaya, serta infeksi virus. Penyakit paru dapat memengaruhi saluran napas, jaringan paru-paru serta sirkulasi udara yang masuk dan keluar dari dalam tubuh.

Covid-19 dapat menyerang sistem pernapasan dengan berbagai cara – dan tingkat keparahan yang berbeda. Dalam hal ini, penderita komorbid paru-paru akan mengalami kondisi yang cukup parah ketika terinfeksi virus. Sebab, virus corona dapat menyebabkan kerusakan pada organ tersebut.

Orang dengan penyakit paru yang terinfeksi Covid-19 berisiko mengalami sesak napas, mulai dari tingkat sedang hingga berat, peradangan pada cabang tenggorokan, rusaknya jaringan paru akibat luka, serta kerusakan kantong udara.

Umumnya, pasien Covid-19 dengan penyakit paru akan mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit. Menurut Kementerian Kesehatan dan Asosiasi Dokter Paru, ada prosedur khusus yang harus dijalankan untuk menangani pasien Covid-19 dengan penyakit paru. Nantinya, petugas medis akan menentukan tingkat keparahan penyakit yang diderita, lalu pasien harus mengikuti prosedur perawatan.

 

5. Penyakit Ginjal

Credit Image - alodokter.com

Terakhir, ada pula komorbid ginjal, yaitu gangguan yang terjadi pada organ tersebut, sehingga ginjal tidak dapat membersihkan atau menyaring racun dari darah. Beberapa jenis penyakit ginjal yang umumnya terjadi yaitu batu ginjal, gagal ginjal kronis, gagal ginjal akut, serta infeksi ginjal.

Penyakit ginjal disebabkan oleh banyak hal, diantaranya kekurangan cairan, cedera pada ginjal dan kelainan genetik. Selain itu, kerusakan pada ginjal juga disebabkan oleh penyakit lainnya seperti diabetes, hipertensi dan autoimun.

Seseorang yang menderita sakit ginjal akan mengalami peningkatan risiko sakit parah saat terinfeksi Covid-19, karena virus dapat menyebabkan terjadinya pembekuan darah serta badai sitokin yang akan memperparah kerusakan jaringan ginjal.

Pasien virus corona yang memiliki komorbid ini, sebaiknya menjalani perawatan di rumah sakit. Terutama mereka yang kondisinya sangat lemah dan membutuhkan perawatan intensif termasuk alat bantu pernapasan.

Selama pandemi, menjalani protokol kesehatan merupakan langkah tepat untuk membantu melindungi diri dari infeksi virus corona. Namun, yang juga tak boleh dilupakan, yaitu menjalani gaya hidup sehat, apalagi untuk seseorang yang punya penyakit komorbid.

Gaya hidup sehat dapat dijalani dengan memiliki pola makan bergizi seimbang, rutin berolahraga — aktif bergerak bisa kurangi risiko infeksi virus, miliki waktu tidur yang cukup dan berkualitas, serta kelola stres dengan baik.

Selain itu, penuhi juga kebutuhan vitamin harian — terutama vitamin C yang berperan penting dalam menjaga kekebalan tubuh. Vitamin yang satu ini juga bisa didapat dengan rutin mengonsumsi suplemen multivitamin.

Direkomendasikan untuk minum Enervon-C yang memiliki kandungan lengkap, yaitu Vitamin C, Vitamin B Kompleks (Vitamin B1, Vitamin B2, Vitamin B6, Vitamin B12), Niacinamide, dan Kalsium Pantotenat untuk menjaga daya tahan tubuh agar tidak mudah sakit.

Minum Enervon-C dalam bentuk Enervon-C Effervescent — dengan kandungan Vitamin C lebih tinggi, yaitu 1000 mg untuk berikan perlindungan ekstra, terutama bagi yang masih harus beraktivitas di luar rumah selama pandemi.

Bagi yang memiliki lambung sensitif, direkomendasikan untuk mengonsumsi Enervon Active yang mengandung non-acidic Vitamin C 500 mg, Vitamin B Kompleks (Vitamin B1, Vitamin B2, Vitamin B6, Vitamin B12), Niacinamide, Kalsium Pantotenat, dan Zinc yang dapatbantu menjaga stamina agar tak mudah lelah, sekaligus optimalkan sistem kekebalan tubuh.

Selain itu, kandungan Vitamin B Kompleks dapat bantu optimalkan proses metabolisme. Sehingga, makanan yang dikonsumsi bisa diubah menjadi sumber energi untuk tubuh — yang tentunya dapat bertahan lebih lama.

 

Itulah ulasan mengenai sejumlah komorbid yang dapat memperburuk kondisi pasien Covid-19. Jika kamu atau anggota keluarga ada yang memiliki penyakit bawaan, ada baiknya melakukan pengecekan secara rutin agar kesehatan tetap terjaga!

 

 

Featured Image - blog.kitabisa.com

Source - popmama.com