Pandemi Covid-19 disebut berpotensi menjadi hiperendemi. Hal yang satu ini pun sudah ramai diperbincangkan beberapa waktu silam. Tetapi, masih banyak masyarakat yang bingung mengenai istilah hiperendemi tersebut. Tetapi yang pasti, pakar menyebut bahwa Indonesia perlu menyiapkan roadmap pengendalian, termasuk vaksinasi.

Dilansir dari CNN Indonesia, Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia, Masdalina Pane, menyebutkan bahwa Indonesia sudah memasuki fase hiperendemi. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya tingkat kejadian penyakit yang lebih tinggi, dibandingkan dengan endemi.

Lebih lanjut mengenai hal tersebut, berikut ini ulasan lengkapnya.

 

 

Apa Itu Hiperendemi?

Credit Image - validnews.id

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, dinyatakan bahwa Indonesia telah memasuki fase hiperendemi. Ini berarti adanya tingkat kejadian penyakit yang lebih tinggi, jika dibandingkan dengan endemi. Kejadian penyakit yang dimaksud mengacu pada kondisi sebaran virus yang konstan dalam suatu populasi, yang terdapat di suatu wilayah geografis tertentu.

Hiperendemi memiliki persisten, serta tingkat kemunculan penyakit yang lebih tinggi dari endemik. Meski demikian, untuk merubah fase pandemi, sehingga menjadi endemi – atau hiperendemi, pada dasarnya termasuk dalam kewenangan dari WHO.

Tetapi, setidaknya ada beberapa kriteria standar pengendalian pandemi, yang kemudian dapat dikatakan menjadi endemi, yaitu:

  1. Jumlah kasus harus kurang dari 20/100 ribu
  2. Positivity rate harus kurang dari 5 persen
  3. Angka rawat tidak boleh lebih dari 5/100 ribu penduduk – atau tidak lebih 15 persen dari kasus yang terkonfirmasi
  4. Angka kematian harus rendah

Sementara di Indonesia, Satgas Penanganan Covid-19 menuturkan positivity rate nasional pada periode 16-22 Agustus 2021 angkanya masih 18,15 persen. Angka ini turun dari momen puncak sebesar 30,54 persen. Namun, masih lebih tinggi dari sebelum lonjakan kasus kedua yang hanya 9,44 persen.

Jika dipecah per provinsi, maka terdapat 10 provinsi dengan positivity rate di atas 30 persen. Saat ini hanya DKI Jakarta yang ada di bawah 15 persen, yaitu sebesar 11,7 persen.

Selain itu, ditemukannya vaksin juga dapat menjadi faktor perubahan status wabah. WHO menetapkan bahwa jika vaksinasi dunia sudah mencapai 70 persen, maka herd immunity dapat berlangsung dan dunia masuk ke tahap endemi.

 

Apa Saja Persiapan Menuju Fase Hiperendemi?

Credit Image - alodokter.com

Ada sejumlah hal yang sebaiknya dipersiapkan dalam rangka menghadapi fase hiperendemi. Seperti, Indonesia mesti memiliki roadmap – atau perencanaan jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Hal ini pun sudah disebutkan di atas, ya.

Perencanaan tersebut tidak hanya untuk penularan Covid-19, tetapi mencakup seluruh penyakit yang berpotensi terjadinya wabah. Dalam peta tersebut, harus ada pencapaian yang jelas, seperti kapan Indonesia bisa mandiri di bidang kesehatan. Hal ini mencakup kapan Indonesia bisa memproduksi alat tes dan vaksin sendiri, sehingga tidak bergantung kepada negara lainnya.

Selain itu, fasilitas kesehatan juga harus mencapai standar WHO. Untuk mencapainya, harus ditentukan sejumlah tindakan yang perlu dilakukan oleh pemerintah daerah, pemerintah pusat, serta perencanaan penanganan yang matang.

 

Tapi Ternyata, Hiperendemi Pernah Terjadi di Indonesia, Lho

Credit Image - kompas.com

Lebih lanjut mengenai hipernedemi, ternyata ini bukanlah kondisi yang baru bagi Indonesia. Sebelumnya, RI pernah mengalami fase tersebut, yaitu dalam wabah TBC. Dalam hal ini, pemerintah juga harus memiliki perencanaan yang jelas dalam menangani penyakit TBC.

Untuk menghindari segala kemungkinan buruk yang ada, masyarakat terus diimbau melakukan langkah pencegahan. Jadi, penerapan prokes secara lengkap masih sangat direkomendasikan, termasuk usai divaksinasi Covid-19.

Protokol kesehatan yang dianjurkan meliputi memakai masker ketika bepergian, menerapkan jaga jarak, rutin mencuci tangan, menghindari kerumunan, serta tidak bepergian – kecuali ada urusan yang mendesak.

Selain itu, optimalkan perlindungan diri dengan menerapkan pola hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, dan istirahat yang cukup. Hidup sehat – dapat bantu jaga imunitas tubuh tetap kuat.

Yang tidak kalah pentingnya dalam menjaga kesehatan tubuh, yaitu rutin mengonsumsi suplemen vitamin C yang dapat membantu memaksimalkan sistem kekebalan tubuh. Untuk memperoleh asupannya, direkomendasikan untuk mengonsumsi multivitamin dengan kandungan lengkap, seperti Enervon-C dan Enervon Active.

Pastikan kamu sudah rutin minum Enervon-C yang mengandung Vitamin C, Vitamin B Kompleks (Vitamin B1, Vitamin B2, Vitamin B6, dan Vitamin B12), Niacinamide, dan Kalsium Pantotenat – yang dapat menjaga daya tahan tubuhmu agar tidak mudah sakit.

Multivitamin Enervon-C Effervescent dengan kandungan Vitamin C lebih tinggi, yaitu 1000 mg untuk perlindungan ekstra, sekaligus memberikan sensasi segar sepanjang hari.

Untuk yang punya masalah lambung sensitif, direkomendasikan mengonsumsi Enervon Active yang mengandung non-acidic Vitamin C 500 mg, Vitamin B Kompleks (Vitamin B1, Vitamin B2, Vitamin B6, Vitamin B12), Niacinamide, Kalsium Pantotenat, dan Zinc yang dapat menjaga stamina tubuh agar tak mudah lelah – dan pastinya menjaga imunitas tubuh tetap optimal, berkat kandungan vitamin C dan zinc-nya.

Kandungan vitamin B kompleks dalam Enervon-C dan Enervon Active juga dapat membantu proses metabolisme, sehingga makanan yang dikonsumsi bisa diubah menjadi sumber energi yang lebih tahan lama. Manfaat ini bisa membuat tubuh makin produktif selama beraktivitas.

Untuk mendapatkan sejumlah produk multivitamin Enervon yang asli, pastikan kamu membelinya dari official store di Tokopedia, Shopee, Lazada, dan BukaLapak. Atau dapatkan di drug store dan apotek di daerahmu.

 

Jadi, itulah ulasan mengenai hiperendemi yang disebut telah dialami oleh Indonesia. Di masa seperti ini, pastikan kamu tetap mematuhi prokes, serta jaga selalu kekebalan tubuh agar terlindungi dari risiko paparan penyakit berbahaya.
 

 

 

Featured Image - langgam.id

Source - cnnindonesia & detik.com