Sejak pandemi Covid-19 berlangsung, angka kasus positif pada anak masih terus meningkat. Pada bulan Februari silam, pasien anak-anak pun meningkat drastis sampai 300 persen. Angka tersebut berdasarkan data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Peningkatan tersebut juga dipengaruhi oleh varian virus yang bermunculan, termasuk Omicron.

Meski sudah menerapkan protokol kesehatan, tapi tetap ada risiko anak terpapar Covid-19. Untuk itu, setiap orangtua disarankan agar lebih waspada dalam mengamati gejala yang timbul. Dengan demikian, jika anak mengalami perburukan, maka penanganan bisa segera dilakukan.

Lantas, apa saja gejala yang menunjukkan anak harus segera dibawa ke rumah sakit? Berikut ini informasi lengkapnya!

 

 

Banyak Anak-Anak di Bawah Usia 20 Tahun yang Terjangkit Covid-19

Credit Image - bbc.com

Berdasarkan data dari UNICEF yang dipaparkan oleh Prof. Hinky, dari 208 juta kasus COVID-19, sebanyak 20 persen di antaranya atau sekitar 41,2 juta kasus terjadi pada anak-anak dan orang di bawah usia 20 tahun. Ini adalah data dari 105 negara di seluruh dunia.

Dari 41,2 juta kasus, 64 persen terjadi pada kalangan usia 10–19 tahun dan 36 persen dialami anak usia 0–9 tahun. Bagaimana dengan kasus virus corona pada anak di Indonesia? Perkembangan kasusnya luar biasa pesat. Dari yang awalnya hanya 676 kasus pada 24 Januari 2022, menjadi 2.775 kasus pada 31 Januari 2022. Bahkan, naik menjadi 7.190 kasus pada 7 Februari 2022.

Bahkan, dilansir dari IDN Times,  ada 1.090 pasien meninggal saat varian Omicron mendominasi di Indonesia dan 3 persen di antaranya – sekitar 37 orang, yaitu anak usia 1–5 tahun.

 

Pilek, Sakit Kepala, dan Sakit Tenggorokan Menjadi Gejala Paling Umum

Berbeda varian, berbeda pula gejalanya. Ada pun gejala terbanyak varian sebelumnya adalah kelelahan, sakit kepala, anosmia – atau kehilangan indra penciuman dan pengecapan, serta sakit tenggorokan yang paling sering dirsakan.

Sementara itu, gejala terbanyak varian Omicron adalah pilek, sakit kepala, kelelahan, bersin, sakit tenggorokan, hidung tersumbat, sakit ketika menelan, meler, dan batuk. Ini adalah bukti bahwa Omicron cenderung menyerang saluran pernapasan atas.

Saat ini, virus mulai merambah ke usia anak, bahkan virus menjadi lebih pintar untuk menempel serta menyebabkan banyak anak-anak yang terpapar.

 

Tanda Berbahaya yang Mesti Dikenali

Credit Image - hellosehat.com

Sudah pasti, orangtua perlu mengenali tanda bahaya Covid-19 pada anak, sehingga jika ia mengalami perburukan, penanganan tepat dapat segera dilakukan. Ada pun tanda bahaya yang dimaksud, yaitu:

  • Muncul ruam.
  • Kejang.
  • Kuduk kaku.
  • Lengan dan kaki dingin.
  • Pucat serta kebiruan pada kulit, bibir, dan kuku.
  • Silau terhadap cahaya.
  • Menangis lemah.
  • Mengantuk dan sulit untuk dibangunkan.
  • Gelisah dan kebingungan.
  • Terjadi penurunan kesadaran.
  • Sesak dan kesulitan bernapas.
  • Tidak mau menyusu.
  • Tidak bereaksi.
  • Tidak mau makan dan minum.
  • Tidak mau beraktivitas seperti biasa.
  • Tanda dehidrasi (mulut kering, tidak ada air mata, dan buang air kecil berkurang).

Jika terdapat tanda-tanda seperti yang telah disebutkan, maka harus segera dibawa ke rumah sakit. Yang paling ditakutkan adalah sindrom inflamasi multisistem pada anak-anak (MIS-C). Ini adalah suatu kondisi di mana berbagai organ tubuh meradang, di antaranya jantung, paru, otak, ginjal, kulit, mata, dan saluran cerna.

Banyak anak dengan MIS-C pernah terpapar Covid-19 sebelumnya atau pernah kontak dengan penderita virus corona. Jangan diremehkan karena MIS-C sifatnya serius, bahkan bisa menyebabkan kematian. Akan tetapi, sebagian besar kasus dapat sembuh dengan pengobatan.

Selain MIS-C, anak yang pernah terinfeksi Covid-19 memiliki long Covid yang gejalanya menetap setidaknya 12 minggu setelah tes swab pertama. Gejalanya berdampak pada kegiatan sehari-hari serta bisa hilang-timbul dan berulang.

 

Kabar Baiknya, Vaksin Sudah Tersedia untuk Anak Usia 6-11 Tahun

Sejak beberapa bulan lalu, anak usia 6-11 tahun sudah boleh divaksinasi. Awalnya dimulai dari DKI Jakarta, Banten, dan Depok, kini sudah meluas ke wilayah lain di Indonesia. Total sasarannya adalah 26,5 juta anak.

Vaksin yang direkomendasikan untuk anak adalah Sinovac atau CoronaVac. Sementara itu, opsi vaksin lain masih menunggu Emergency Use Authorization (EUA) BPOM dan Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI). Dosisnya adalah 0,5 ml yang diberikan dua kali dengan jarak minimal 28 hari.

Selain mendapat vaksinasi, untuk menghindari anak terinfeksi Covid-19, orangtua juga perlu mengajak Si Kecil lakukan protokol kesehatan 5M – yang meliputi, memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas.

Lalu, jaga selalu kesehatan tubuh dan imunitas si kecil – dengan mengajak anak hidup sehat, seperti memberi makanan bergizi dan bernutrisi, rutin melakukan aktivitas fisik, dan istirahat yang cukup.

Optimalkan pula hidup sehat Si Kecil dengan rutin memberinya multivitamin lengkap, seperti Enervon-C Plus Sirup yang mengandung Vitamin A, Vitamin B Kompleks (Vitamin B1, Vitamin B2, Vitamin B6, Vitamin B12), Vitamin C, dan Vitamin D.

Deretan kandungan vitamin tersebut mampu menjaga daya tahan tubuh anak agar tidak mudah sakit, membantu memenuhi kebutuhan nutrisi harian, mengoptimalkan proses tumbuh kembangnya, memelihara kesehatan tulang dan gigi, sekaligus meningkatkan nafsu makan Si Kecil.

 

Jadi, itulah tanda perburukan gejala yang perlu diwaspadai orangtua ketika anak sedang terpapar Covid-19. Untuk menghindari risiko penularan virus, tetap patuhi protokol kesehatan dan jaga kekebalan tubuh agar tak mudah sakit!

 

 

Featured Image – klikdokter.com

Source – idntimes.com