Sampai di bulan Ramadhan pekan kedua ini, perkembangan Covid-19 di Indonesia masih berlanjut. Sistem PSBB yang masih diberlakukan, work from home dan physical-social distancing juga terus diterapkan guna memutus rantai infeksi virus corona dan tentunya memperkecil angka penularan Covid-19 ini.

Beberapa hari yang lalu, BPPT atau Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi menyatakan dalam waktu yang dekat sudah bisa memproduksi alat uji cepat atau rapid test dan juga alat tes lainnya seperti PCR. Memperbanyak peralatan tes ini tentu guna untuk mendiagnosis paparan virus ini di masyarakat luas Indonesia.

 

 

Produksi Masif Rapid Test

Untuk informasi seberapa banyak alat yang di produksi – Hammam Riza sebagai kepala BPPT, menjelaskan setidaknya ada 10 ribu alat rapit test antibodi yang pada pekan ketiga di bulan Mei akan selesai. Saat ini masih menunggu beberapa komponen yang diuji terus secara klinis.

Jika 10 ribu alat rapid test ini sudah selesai tersedia, BPPT berencana untuk memperbanyak jumlah produksinya dalam satu bulan. Diperkirakan akan memproduksi 50 ribu rapid test antibodi untuk memenuhi tes massif yang dilakukan untuk memutus rantai penyebaran Covid-19.

Menurut Hammam, pekan ini sedang dilakukan validasi terhadap alat tersebut. Ia juga menyebutkan kalau 10 ribu alat tersebut akan disebarkan ke berbagai daerah. Jika semakin banyak orang yang melakukan pengujian, akan ada prediksi dalam satu bulan bisa memproduksi 50 ribu alat.

 

Bagaimana Dengan Alat PCR?

Sementara itu, selain peralatan rapid test – peralatan tes PCR juga sudah memasuki tahap uji coba dan siap juga untuk diproduksi secara masal. Rencananya, alat tes PCR ini akan diproduksi sebanyak 100 ribu unit.

Alat tes PCR sendiri yang dikembangkan ini akan memanfaatkan strain atau varian genetic virus corona yang menginfeksi masyarakat Indonesia dengan status transmisi lokal. Hammam juga menjelaskan paling cepat di tanggal 10 Mei 2020, peralatan itu sudah bisa disebarkan luaskan ke rumah sakit.

Namun produksi alat tes PCR ini mempunyai kendala tersendiri – salah satunya adalah ketersediaan alat reagen yang sampai sekarang ini masih mengandalkan impor. Oleh karena itu, BPPT sekarang ini juga tengah mengembangkan tes alternatif lain selain rapid test dan PCR.

 

Deteksi Covid-19 Dengan AI

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya kalau BPPT juga sedang mengembangkan tes alternatif lainnya selain rapid test dan PCR. Salah satu yang sudah dikembangkan adalah pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau AI.

Dengan menggunakan bantuan AI – Hammam menyebutkan jika dengan melalui tes yang satu ini, hasil yang dibutuhkan hanya tinggal keluar dalam 2 menit saja. Wah canggih sekali, bukan? Hal ini cukup bertolak belakang dengan PCR.

PCR sendiri adalah alat pengujian infeksi Covid-19 yang menggunakan ketersediaan Reagan sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama hingga berjam-jam. Oleh karena itu, sistem AI ini bisa jadi alternatif yang menarik.

Dilansir dari Kumparan – Hammam juga mengatakan kalau teknologi AI ini akan menggunakan data CT-scan dan X-Ray dari pasien negatif dan positif Covid-19 yang nantinya akan dipelajari oleh sistem machine learning dan deep learning.

 

 

Jika kamu datang ke rumah sakit tapi tidak memiliki gejala Covid-19, maka kamu bisa melakukan tes thorax. Di tes ini, petugas radiolog atau dokter akan memasukan data CT-scan dan X-ray ke sistem cloud. Nantinya AI akan membaca dan menganalisa data tersebut sampai keluar hasilnya hanya dalam 2 menit saja.

 

Feature Image – ayobogor.com