Herd Immunity Akibat Infeksi Alami VS Vaksin, Apa Bedanya?

Herd Immunity Akibat Infeksi Alami VS Vaksin, Apa Bedanya?

font size A Ǎ

Belakangan waktu terakhir, beredar kabar mengenai sudah mulai terbentuknya herd immunity – atau kekebalan kelompok di Indonesia. Benarkah hal tersebut? Adnaya kekebalan kelompok memang benar adanya, namun diprediksikan terjadi akibat infeksi alamiah, bukan vaksinasi, mengingat cakupan vaksin di Indonesia masih cukup rendah.

Infeksi alamiah yang dapat membantu membentuk herd immunity tersebut terjadi karena adanya lonjakan kasus positif Covid-19 yang terjadi beberapa waktu silam. Kabar baiknya, kini angka positif pun sudah berangsur menurun.

Mengenai kekebalan kelompok yang bisa terbentuk dari infeksi alamiah dan vaksinasi, tapi apa perbedaan di antara keduanya? Yuk, simak informasinya berikut ini!

 

 

Apa Itu Herd Immunity?

Herd Immunity Akibat Infeksi Alami VS Vaksin, Apa Bedanya?

Credit Image - tribunnews.com

Herd immunity – alias kekebalan kelompok merupakan kondisi ketika sebagian besar orang dalam suatu kelompok telah memiliki kekebalan terhadap penyakit infeksi tertentu. Semakin banyak yang sudah kebal, maka semakin sulit pula penyakit untuk menyebar, karena sudah tak lagi banyak orang yang dapat terpapar.

Cara yang dapat ditempuh untuk mendapat kekebalan kelompok, yakni salah satunya vaksinasi. Dikutip dari Alodokter, sebagai contohnya, vaksinasi polio yang dapat membantu tubuh membentuk kekebalan spesifik terhadap virus penyebab penyakit tersebut.

Suatu saat, ketika ada virus polio memasuki tubuh orang tersebut, sistem imun tubuhnya telah siap melawan virus polio, sehingga virus ini mati dan tidak sampai menyebabkan penyakit polio. Dengan begitu, virus juga tidak bisa menyebar ke orang lain.

Bayangkan bila dalam waktu yang bersamaan, hampir semua orang dalam suatu kelompok yang sama dengan orang tadi juga memiliki kekebalan terhadap virus polio. Tentunya kesempatan virus polio untuk menyebabkan penyakit dan menular menjadi sangat kecil.

Selain itu, kekebalan kelompok juga bisa diperoleh dengan infeksi alamiah – setelah berhasil sembuh dari penyakit tersebut. Usai pulih, tubuh akan memiliki antibodi untuk melawan virus penyebab penyakit, jika suatu waktu virus menyerang kembali.

Jadi, semakin banyak orang yang terinfeksi dan sembuh, maka semakin banyak pula yang kebal, dan akhirnya membentuk herd immunity. Meski demikian, cara yang satu ini membutuhkan waktu yang lebih lama – dan punya risiko tinggi.

 

Kekebalan Kelompok Infeksi Alami VS Vaksin, Apa Bedanya?

Herd Immunity Akibat Infeksi Alami VS Vaksin, Apa Bedanya?

Credit Image - halodoc.com

Kepala ilmuwan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dr Soumya Swaminathan, menjelaskan memang ada perbedaan antara imunitas yang terbentuk akibat infeksi alami – dengan yang didapatkan dari vaksinasi. Perbandingan yang paling utama terletak pada tingkat antibodi yang bisa dihasilkan.

Setelah terinfeksi Covid-19, orang-orang akan memiliki respons imunitas, namun hal tersebut akan berbeda setiap individunya, tergantung gejala yang dialami, apakah ringan atau justru berat. Dari hasil berbagai studi, kalau gejala ringan, biasanya hanya antibodi yang terbentuk pun lebih sedikit.

Pada vaksin, setidaknya para peneliti sudah berusaha melakukan standarisasi tingkat respons antibodi yang dibuktikan dalam uji klinis. Hanya sebagian kecil orang yang mungkin tak memiliki respons antibodi memadai dari vaksin.

Mencapai kekebalan kelompok dengan vaksin merupakan cara yang lebih aman dan efektif, sehingga membuat penyakit lebih jarang menyerang, sekaligus dapat menyelamatkan nyawa.

 

Sudah Vaksinasi? Langkah Pencegahan Masih Harus Dilakukan!

Herd Immunity Akibat Infeksi Alami VS Vaksin, Apa Bedanya?

Credit Image - wkbn.com

Seperti yang sudah disebutkan, vaksinasi merupakan salah satu cara untuk membentuk kekebalan kelompok. Meski demikian, angka vaksinasi yang sudah cukup tinggi pun tidak boleh membuatmu lengah. Perlu diketahui bahwa pada dasarnya vaksin bekerja dengan mengenali sebagian dari virus – yang kemudian dapat diidentifikasi oleh sistem kekebalan tubuh. Harapannya, imunitas dapat dengan cepat mengenali serta melawan, ketika virus aslinya datang menyerang tubuh.

Namun, tidak ada vaksin yang dapat bekerja 100 persen efektif, lho. Dalam hal ini, respons imun setiap orang bisa berbeda-beda terhadap vaksin. Untuk itu, tak menutup kemungkinan penerima vaksin masih bisa terinfeksi virus.

Kondisi tersebut pun dapat disebabkan oleh berbagai kemungkinan. Sebagian besar alasannya berkaitan dengan seberapa besar paparan seseorang terhadap patogen. Mungkin saja ada yang sudah terpapar, tapi hanya dosis kecil patogen saja.

Dalam proses imunitas mengenai virus penyebab penyakit, tubuh bisa saja membutuhkan paparan dosis yang lebih banyak dan konstan. Meski akhirnya vaksin bukanlah kunci utama tubuh terhindar dari Covid-19 – namun, dengan mendapat vaksinasi tetap bisa mengurangi kemungkinan tingkat keparahan penyakit. Jadi, bisa tetap terinfeksi, namun dengan gejala yang ringan.

Itulah alasan mengapa setelah mendapatkan vaksin, prokes masih harus dijalani. Namun, bukan berarti vaksinasi tidak bermanfaat, melainkan dengan vaksin risiko terinfeksi dapat semakin diminimalisir – dan, jika pun terkena penyakit maka gejala yang dirasakan tidak berat, atau bahkan tidak berisiko mengalami kematian.

Jadi, tetap jalani protokol kesehatan, yaitu memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas – hindari bepergian kecuali untuk urusan mendesak.

Yang juga tidak kalah pentingnya, tetap jaga selalu kekebalan tubuh, salah satunya dengan rutin mengonsumsi suplemen. Jangan salah, minum suplemen masih tetap dianjurkan setelah vaksinasi. Adapun suplemen yang baik dikonsumsi, yaitu suplemen jenis imunomodulator.

Suplemen imunomodulator merupakan jenis suplemen yang dapat membantu meningkatkan pembentukan sistem imun, atau menahan laju pembentukan sistem imun ketika tubuh merasa sudah terbentuk sistem imun dalam jumlah cukup.

Untuk suplemen yang direkomendasikan – kamu dapat konsumsi Enervon-C yang memiliki kandungan lengkap, yaitu Vitamin C, Vitamin B Kompleks (Vitamin B1, Vitamin B2, Vitamin B6, Vitamin B12), Niacinamide, dan Kalsium Pantotenat untuk menjaga daya tahan tubuh agar tidak mudah sakit.

Minum Enervon-C dalam bentuk tablet yang mengandung 500 mg Vitamin C, atau Enervon-C Effervescent — dengan kandungan Vitamin C lebih tinggi, yaitu 1000 mg untuk berikan perlindungan ekstra, terutama kamu yang sudah sering beraktivitas di luar rumah.

Selain itu, bagi yang memiliki masalah lambung sensitif, direkomendasikan mengonsumsi Enervon Active – dengan kandungan non-acidic Vitamin C 500 mg, Vitamin B Kompleks (Vitamin B1, Vitamin B2, Vitamin B6, Vitamin B12), Niacinamide, Kalsium Pantotenat, dan Zinc dapat menjaga stamina tubuh, sekalius mengoptimalkan kinerja sistem imun.

Kandungan vitamin B kompleks dalam Enervon-C dan Enervon Active juga dapat membantu proses metabolisme, sehingga tubuh bisa mengolah makanan yang dikonsumsi, kemudian diubah menjadi sumber energi yang lebih tahan lama. Manfaat yang satu ini tentunya bisa membuat makin produktif dalam melakukan aktivitas harian.

Untuk mendapatkan sejumlah produk multivitamin Enervon yang asli, pastikan kamu membelinya dari official store di Tokopedia, Shopee, Lazada, dan BukaLapak. Atau kunjungi drug store dan apotek terdekat di daerahmu.

 

Jadi, itulah ulasan mengenai perbedaan kekebalan kelompok yang terbentuk dari vaksinasi dan infeksi alamiah. Meski sudah vaksinasi, pastikan kamu tetap menjalani protokol kesehatan agar terlindungi dari paparan virus corona!

 

 

Featured Image - yalemedicine.org

Source - detik.com


Post Comment

Please login to comment

Comments

NO COMMENT YET, BE THE FIRST!