Studi: Suntik Booster Cegah Gejala Berat Sampai 92 Persen

Studi: Suntik Booster Cegah Gejala Berat Sampai 92 Persen

font size A Ǎ

Diketahui, pandemi Covid-19 masih terus berlangsung. Disadari – atau tidak, angka kasus positif terus naik menurun. Apalagi ditambah dengan munculnya varian-varian baru, seperti Delta, Delta Plus, serta turunannya, yakni A.Y.4.2.

Berkaitan dengan bertambahnya jenis varian Covid-19, maka pemerintah pun khawatir akan efektivitas vaksin bisa menurun seiring berjalannya waktu. Untuk itu, banyak yang merekomendasikan suntikan vaksin ketiga – alias booster.

Bukan tanpa alasan, ternyata ada penelitan terbaru yang mengungkapkan manfaat dari suntikan ketiga vaksin Covid-19 dapat menekan risiko paparan virus corona. Yuk, simak informasi lengkapnya berikut ini.

 

 

Studi Ini Melibatkan Sebanyak 730.000 Orang

Studi: Suntik Booster Cegah Gejala Berat Sampai 92 Persen

Credit Image - aa.com.tr

Dimuat dalam jurnal The Lancet pada 29 Oktober 2021 lalu, sebuah penelitian gabungan antara Harvard, Amerika Serikat, dan Clalit Research Institute, Israel – ingin mencari tahu keampuhan dosis ketiga vaksin Pfizer-BioNTech (BNT162b2) dalam mencegah Covid-19 parah.

Para peneliti memantau data 728.321 partisipan yang telah menerima vaksin Pfizer-BioNTech dosis ketiga antara Juli 2020 hingga September 2021. Para partisipan ini dibandingkan dengan partisipan penerima dua dosis vaksin Pfizer-BioNTech dengan jumlah yang sama.

Studi bertajuk "Effectiveness of a third dose of the BNT162b2 mRNA Covid-19 vaccine for preventing severe outcomes in Israel" yang telah menjalani ulasan sejawat – atau disebut juga sebagai peer review tersebut dianggap sebagai studi terhadap suntikan booster terbesar saat ini.

Dalam penelitian tersebut, para ahli memperkirakan efektivitas mulai dari hari ke-7 setelah dosis ketiga, serupa dengan periode yang mendefinisikan vaksinasi komplit setelah dosis kedua. Pilihan tersebut didukung oleh konsentrasi antibodi tinggi pada individu, yakni seminggu setelah pemberian booster.

 

Hasilnya, Booster Bisa Turunkan Risiko Parah Hingga Kematian

Dibandingkan dengan mereka yang menerima suntikan dosis kedua 5 bulan sebelumnya, para peneliti menemukan bahwa partisipan yang mendapatkan booster Covid-19 memiliki risiko 93 persen lebih rendah untuk dirawat inap akibat virus corona.

Selanjutnya, para peneliti memantau bahwa kelompok dosis ketiga memiliki risiko terkena Covid-19 parah 92 persen lebih rendah. Tidak hanya itu, para peneliti juga menemukan bahwa risiko kematian akibat virus corona pada kelompok ini 81 persen jauh lebih rendah.

Menurut para peneliti AS dan Israel, efektivitas dosis ketiga terhadap risiko rawat inap dan komplikasi parah tidak terbatas pada gender atau usia. Baik laki-laki dan perempuan maupun berusia 40 sampai di atas 69 tahun, efektivitas dosis ketiga tetap sama.

 

Sayangnya, Ada Kekurangan Dalam Studi Tersebut

Studi: Suntik Booster Cegah Gejala Berat Sampai 92 Persen

Credit Image - detik.com

Akan tetapi, ada beberapa kekurangan dalam penelitian tersebut. Pertama, para peneliti tidak ikut memprakirakan risiko sekunder seperti infeksi – baik bergejala atau tidak. Selain itu, studi ini bersifat observasi, sehingga analisis tidak dapat menjelaskan setiap faktor yang memengaruhi hasil akhir.

Kedua adalah rentang usia. Para peneliti mencatat bahwa karena kelangkaan kejadian pada individu di bawah 40 tahun, maka penelitian ini tidak bisa mengevaluasi efektivitas vaksin di kelompok usia tersebut. Studi ini juga tidak menelusuri potensi kejadian klinis yang merugikan dan eksploitasi layanan kesehatan terkait vaksinasi dosis ketiga.

Terakhir, studi ini mengecualikan orang-orang yang telah mendapatkan dosis booster lebih awal. Orang-orang ini termasuk petugas kesehatan dan penghuni fasilitas perawatan jangka panjang.

 

Ada Kelompok yang Harus Menerima Booster

Sejauh ini, berbagai lembaga kesehatan telah mengeluarkan edaran rekomendasi booster untuk beberapa kelompok. Menurut Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS (CDC), beberapa kelompok orang yang butuh booster adalah:

  • Usia 65 tahun ke atas
  • Usia 18 tahun ke atas dengan komorbiditas
  • Usia 18 tahun ke atas yang bekerja di lingkungan yang berisiko tinggi terkena Covid-19
  • Usia 18 tahun ke atas yang menerima vaksin dosis tunggal Johnson & Johnson (J&J) (2 bulan setelahnya)

Selain itu, CDC juga menyatakan bahwa orang-orang bisa memilih merek suntikan booster-nya. Suntikan booster direkomendasikan 6 bulan setelah vaksin dosis kedua. Per 28 Oktober 2021, CDC mencatat 15 juta rakyat AS telah menerima booster.

Menurut sebuah survei dari Kaiser Family Foundation, sekitar 43 persen orang dewasa yang sudah divaksinasi komplet yakin mau menerima booster, sementara 24 persen masih mempertimbangkan. Setelah survei rampung pada Oktober 2021 lalu, 10 persen partisipan survei sudah menerima booster.

 

Sementara Itu, Berikut Kelompok yang Sangat Dianjurkan Mendapat Vaksin Dosis Ketiga

Studi: Suntik Booster Cegah Gejala Berat Sampai 92 Persen

Credit Image - medpagetoday.com

Dilansir Medical News Today, ada beberapa kondisi yang terkesan dilarang mendapatkan vaksin, tetapi sebenarnya justru dianjurkan mendapatkan vaksin booster. Oleh karena itu, panduan CDC seharusnya berlaku untuk orang-orang berusia minimal 18 tahun dengan komorbiditas seperti:

  • Asma
  • Diabetes
  • Kondisi jantung
  • Penyakit paru-paru kronis
  • Obesitas
  • Gangguan penggunaan zat

Selain itu, untuk orang-orang yang memiliki gangguan sistem imun, suntikan booster juga amat disarankan. Hal ini dikarenakan anggapan bahwa suntikan dua dosis pertama tidak bekerja cukup efektif layaknya pada kelompok dengan sistem imun normal.

Nantinya, meskipun sudah divaksinasi, namun bukan berarti 100 persen kebal terhadap ancaman virus corona. Sebab, pada dasarnya vaksin bekerja dengan mengenali sebagian dari virus – yang kemudian akan diidentifikasi oleh sistem imun tubuh. Harapannya, kekebalan dapat dengan cepat mengindentifikasi dan melawan, jika virus aslinya datang menyerang tubuh.

Tapi sekali lagi, tidak ada vaksin yang dapat bekerja dengan memberikan kekebalan seutuhnya terhadap suatu penyakit. Selain itu, respons imun setiap orang bisa berbeda-beda terhadap vaksin. Dari hal ini, tak menutup kemungkinan penerima vaksin masih bisa terinfeksi virus.

Untuk itu, setelah vaksinasi, prokes masih harus dijalani. Namun, bukan berarti vaksin tidak bermanfaat, melainkan dengan vaksin risiko infeksi dapat semakin diminimalisir. Bahkan, kalau terpapar sekalipun makan gejala yang dirasakan tidak berat, atau tidak berisiko mengalami kematian.

Jadi, pastikan selalu memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan — atau dapat gunakan hand sanitizer setelah menyentuh benda di ruang publik, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas – hindari bepergian kecuali untuk urusan mendesak.

Yang tidak kalah penting, selain menerapkan protokol kesehatan, menjaga imunitas setelah vaksinasi juga penting dilakukan. Masyarakat sangat dianjurkan menjalani gaya hidup sehat, seperti memiliki pola makan bergizi seimbang, rutin berolahraga — aktif bergerak bisa kurangi risiko infeksi virus, miliki waktu tidur yang cukup dan berkualitas, serta kelola stres dengan baik.

Kemudian, mengonsumsi suplemen setelah vaksin juga masih sangat dianjurkan. Adapun suplemen yang baik dikonsumsi, yaitu suplemen jenis imunomodulator. Ini merupakan jenis suplemen yang dapat membantu meningkatkan pembentukan sistem imun, atau menahan laju pembentukan sistem imun ketika tubuh merasa sudah terbentuk sistem imun dalam jumlah cukup.

Untuk suplemen yang direkomendasikan – kamu dapat konsumsi Enervon-C yang memiliki kandungan lengkap, yaitu Vitamin C, Vitamin B Kompleks (Vitamin B1, Vitamin B2, Vitamin B6, Vitamin B12), Niacinamide, dan Kalsium Pantotenat untuk menjaga daya tahan tubuh agar tidak mudah sakit.

Minum Enervon-C dalam bentuk tablet yang mengandung 500 mg Vitamin C, atau Enervon-C Effervescent — dengan kandungan Vitamin C lebih tinggi, yaitu 1000 mg untuk berikan perlindungan ekstra, terutama kamu yang sudah sering beraktivitas di luar rumah.

Selain itu, bagi yang memiliki masalah lambung sensitif, direkomendasikan mengonsumsi Enervon Active – dengan kandungan non-acidic Vitamin C 500 mg, Vitamin B Kompleks (Vitamin B1, Vitamin B2, Vitamin B6, Vitamin B12), Niacinamide, Kalsium Pantotenat, dan Zinc dapat menjaga stamina tubuh, sekalius mengoptimalkan kinerja sistem imun.

Kandungan vitamin B kompleks dalam Enervon-C dan Enervon Active juga dapat membantu proses metabolisme, sehingga tubuh bisa mengolah makanan yang dikonsumsi, kemudian diubah menjadi sumber energi yang lebih tahan lama. Manfaat yang satu ini tentunya bisa membuat makin produktif dalam melakukan aktivitas harian.

Untuk mendapatkan sejumlah produk multivitamin Enervon yang asli, pastikan kamu membelinya dari official store di Tokopedia, Shopee, Lazada, dan BukaLapak. Atau, bisa kunjungi drug store dan apotek terdekat di daerahmu.

 

Itulah informasi mengenai vaksin booster yang dapat membantu mengurangi risiko paparan virus. Namun, karena cakupan vaksin masih tergolong rendah, untuk itu fokus utama yang perlu dilakukan sekarang – yaitu, memperluas cakupan distribusi vaksin. Sehingga, mata rantai penularan bisa dihentikan, serta mengurangi potensi munculnya varian baru.

 

 

Featured Image – voi.id

Source – idntimes.com


Post Comment

Please login to comment

Comments

NO COMMENT YET, BE THE FIRST!