Seperti diketahui, vaksin merupakan cara yang efektif untuk melindungi tubuh dari risiko paparan virus corona penyebab Covid-19. Nantinya, jika cakupan vaksin sudah tinggi, maka herd immunity – atau kekebalan kelompok akan terbentuk.

Selain herd immunity, ada pula super immunity yang disebut dialami oleh Indonesia. Sebab, banyak warga yang sudah sembuh dari Covid-19, kemudian mendapatkan vaksinasi. Namun, sebenarnya apa perbedaan di antara kedua istilah tersebut?

Yuk, simak informasinya di bawah ini!

 

 

Apa Itu Super Immunity?

Credit Image - cnnindonesia.com

Super immunity – atau juga dikenal sebagai hybrid immunity, merupakan jenis kekebalan yang terbentuk dari kombinasi infeksi alami dan vaksin menawarkan kabar baik yang sangat dibutuhkan dalam situasi pandemi.

Melansir dari NPR, selama beberapa bulan terakhir, serangkaian penelitian sudah menemukan bahwa beberapa orang meningkatkan respons kekebalan yang luar biasa kuat terhadap Covid-19. Bukan hanya menghasilkan tingkat antibodi yang sangat tinggi, tapi tubuh pemilik jenis immunity tersebut juga membuat antibodi dengan fleksibilitas tinggi.

Kekebalan tersbeut pun diprediksi mampu melawan berbagai varian virus corona yang beredar di dunia, bahkan varian yang mungkin muncul di masa depan.

Menurut Paul Bieniasz, ahli virology di Rockefeller University, orang-orang yang memiliki kekebalan ini akan cukup terlindungi dari sebagian besar, bahkan mungkin semua varian SARS-CoV-2 yang akan muncul di masa mendatang.

Orang-orang yang memiliki respons imunitas tersebut merupakan yang pernah terpapar virus secara “hibrida”. Lebih spesifiknya, yakni orang-orang yang pernah terinfeksi virus corona, kemudian diimunisasi dengan vaksin mRNA.

Studi lain yang dilakukan oleh tim dari Oregon Health and Science University juga menunjukkan bahwa orang yang sudah mendapatkan vaksinasi, tetapi kemudian terinfeksi Covid-19 juga memiliki super immunity.

Meskipun penelitian sudah menemukan bahwa kombinasi infeksi dan vaksinasi Covid-19 bisa menghasilkan super immunity, tetapi hal itu bukan berarti terpapar virus corona baik karena bisa memperkuat kekebalan tubuh. Para peneliti yang mempelajari super immunity tetap menekankan bahwa risiko infeksi Covid-19 tetap harus dihindari sebisa mungkin.

 

Bagaimana dengan Herd Immunity?

Credit Image - happyfresh.id

Dilansir dari Detik, menurut Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Tjandra Yoga Aditama menyatakan bahwa perbedaan herd immunity dan super immunity sebenarnya terletak pada objek yang memilikinya.

Herd immunity – atau kekebalan kelompok merupakan kekebalan pada suatu kelompok orang, seperti kota, negara, pulau, atau desa. Berbeda dengan super immunity yang hanya bisa melindungi diri sendiri, kekebalan kelompok justru dapat melindungi orang lain yang memang tidak menerima vaksinasi.

Misalnya, di suatu kelompok ada orang yang tidak bisa menerima vaksin karena beberapa alasan, jika herd immunity sudah terbentuk di kelompok itu, maka orang yang tidak divaksin tersebut bisa tetap terlindungi.

Dikelompok herd immunity mungkin ada orang yang memiliki super immunity, tapi suatu kelompok tidak memerlukan super imun agar bisa membentuk herd immunity.

 

Cegah Penularan Virus, Langkah Pencegahan Masih Harus Dilakukan!

Credit Image - inet.detik.com

Seperti yang sudah disebutkan, vaksinasi merupakan salah satu cara untuk membentuk kekebalan kelompok dan super immunity. Meski demikian, angka vaksinasi yang sudah cukup tinggi pun tidak boleh membuatmu lengah.

Perlu diketahui bahwa pada dasarnya vaksin bekerja dengan mengenali sebagian dari virus – yang kemudian dapat diidentifikasi oleh sistem kekebalan tubuh. Harapannya, imunitas dapat dengan cepat mengenali serta melawan, ketika virus aslinya datang menyerang tubuh.

Namun, tidak ada vaksin yang dapat bekerja 100 persen efektif, lho. Dalam hal ini, respons imun setiap orang bisa berbeda-beda terhadap vaksin. Untuk itu, tak menutup kemungkinan penerima vaksin masih bisa terinfeksi virus.

Kondisi tersebut pun dapat disebabkan oleh berbagai kemungkinan. Sebagian besar alasannya berkaitan dengan seberapa besar paparan seseorang terhadap patogen. Mungkin saja ada yang sudah terpapar, tapi hanya dosis kecil patogen saja.

Dalam proses imunitas mengenai virus penyebab penyakit, tubuh bisa saja membutuhkan paparan dosis yang lebih banyak dan konstan. Meski akhirnya vaksin bukanlah kunci utama tubuh terhindar dari Covid-19 – namun, dengan mendapat vaksinasi tetap bisa mengurangi kemungkinan tingkat keparahan penyakit. Jadi, bisa tetap terinfeksi, namun dengan gejala yang ringan.

Itulah alasan mengapa setelah mendapatkan vaksin, prokes masih harus dijalani. Namun, bukan berarti vaksinasi tidak bermanfaat, melainkan dengan vaksin risiko terinfeksi dapat semakin diminimalisir – dan, jika pun terkena penyakit maka gejala yang dirasakan tidak berat, atau bahkan tidak berisiko mengalami kematian.

Jadi, tetap jalani protokol kesehatan, yaitu memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas – hindari bepergian kecuali untuk urusan mendesak.

Yang juga tidak kalah pentingnya, tetap jaga selalu kekebalan tubuh, salah satunya dengan rutin mengonsumsi suplemen. Jangan salah, minum suplemen masih tetap dianjurkan setelah vaksinasi. Adapun suplemen yang baik dikonsumsi, yaitu suplemen jenis imunomodulator.

Suplemen imunomodulator merupakan jenis suplemen yang dapat membantu meningkatkan pembentukan sistem imun, atau menahan laju pembentukan sistem imun ketika tubuh merasa sudah terbentuk sistem imun dalam jumlah cukup.

Untuk suplemen yang direkomendasikan – kamu dapat konsumsi Enervon-C yang memiliki kandungan lengkap, yaitu Vitamin C, Vitamin B Kompleks (Vitamin B1, Vitamin B2, Vitamin B6, Vitamin B12), Niacinamide, dan Kalsium Pantotenat untuk menjaga daya tahan tubuh agar tidak mudah sakit.

Minum Enervon-C Effervescent — dengan kandungan Vitamin C lebih tinggi, yaitu 1000 mg untuk berikan perlindungan ekstra, terutama kamu yang sudah sering beraktivitas di luar rumah.

Selain itu, bagi yang memiliki masalah lambung sensitif, direkomendasikan mengonsumsi Enervon Active – dengan kandungan non-acidic Vitamin C 500 mg, Vitamin B Kompleks (Vitamin B1, Vitamin B2, Vitamin B6, Vitamin B12), Niacinamide, Kalsium Pantotenat, dan Zinc dapat menjaga stamina tubuh, sekalius mengoptimalkan kinerja sistem imun.

Kandungan vitamin B kompleks dalam Enervon-C dan Enervon Active juga dapat membantu proses metabolisme, sehingga tubuh bisa mengolah makanan yang dikonsumsi, kemudian diubah menjadi sumber energi yang lebih tahan lama. Manfaat yang satu ini tentunya bisa membuat makin produktif dalam melakukan aktivitas harian.

 

Jadi, itulah perbedaan herd immunity – atau kekebalan kelompok dan super immunity. Untuk menghindari risiko paparan virus, yuk, terus lakukan langkah pencegahan, ya!

 

 

Featured Image – khn.org

Source – detik.com