Seperti diketahui, konsumsi gula yang berlebihan dapat menyebabkan ketagihan. Dengan demikian, tak heran kalau banyak orang yang sulit berhenti mengonsumsi jenis makanan yang tinggi akan gula. Meski demikian, selain gula, nyatanya garam pun juga bersifat adiktif, lho.

Seharusnya, konsumsi garam yang cukup, yakni sekitar 1.500 mg per hari diperlukan untuk tubuh guna menjaga keseimbangan cairan – dan juga tekanan darah. Hal ini juga bisa membantu tubuh dalam menjalani fungsinya dengan baik.

Kandungan garam bisa ditemui dalam beragam menu makanan, seperti daging olahan, sup, bahkan cookies sekalipun. Tapi sayangnya, garam yang sering ditemukan tersebut pun memiliki sifat adiktif, alias bisa bikin ketagihan.

Mengapa demikian? Berikut ini informasi lengkapnya.

 

 

Persepsi Lidah Soal Garam

Credit Image - theconversation.com

Reseptor pengecap rasa asin yang terdapat pada lidah bisa aktif karena adanya garam yang terionisasi dari makanan. Sinyal yang berisi informasi rasa asin ini kemudian melewati chorda tympani, sebuah cabang pada saraf wajah yang sensitif terhadap rasa asin.

Selanjutnya sinyal tersebut akan melewati saraf wajah yang lain yang disebut dengan ganglion geniculatum, kemudian menstimulasi talamus otak. Sinyal ini lalu masuk ke korteks otak – nantinya, informasi rasa asin diproses di sana.

 

Rasa Asin Dapat Memengaruhi Otak

Tak hanya mampu mengaktivasi reseptor pada lidah, namun garam juga bisa membuat hipotalamus otak menjadi aktif, sehingga nantinya bisa mengeluarkan dopamin.

Pengeluaran dopamin tersebut merangsang pusat kesenangan di korteks orbitofrontal, korteks yang menerima respon pengecapan di otak. Kemudian, rangsangan tersebut efeknya mirip dengan kecanduan obat-obatan terlarang, seperti kokain dan amfetamin.

 

Punya Efek Mirip Kecanduan Obat-Obatan

Credit Image - medicalnewstoday.com

Jika dibandingkan dengan kriteria Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders 5 (DSM-5) pada identifikasi penyalahgunaan dan ketergantungan obat-obatan terlarang, seperti kokain, kecanduan garam juga menimbulkan toleransi – atau keinginan untuk mengonsumsi zat lebih banyak seiring berjalannya waktu.

Selain itu, hal ini juga dapat menyebabkan ketidakmampuan untuk berhenti menggunakan, meskipun sudah mengetahui risiko berbahaya yang mengintai. Ini termasuk ketidakmampuan seseorang melakukan aktivitas sosial, seperti pergi bekerja maupun sekolah – yang juga bisa terjadi akibat penyakit yang ditimbulkan oleh kecanduan garam.

 

Bahaya Kecanduan Makanan Tinggi Garam

Sama seperti terlalu sering mengonsumsi jenis makanan tinggi akan gula, konsumsi garam yang berlebihan juga dapat menyebabkan penyakit berbahaya, termasuk obesitas, tekanan darah tinggi, dan disfungsi kerja ginjal.

Jika dibiarkan, tekanan darah tinggi dapat meningkatkan risiko terkena gagal jantung dan kerusakan pembuluh darah. Fungsi pengaturan volume natrium – atau garam pada ginjal juga bisa mengalami kendala karena konsumsi garam berlebih, hingga akhirnya menyebabkan proteinuria, yakni adanya protein dalam air kencing, fibrosis ginjal, serta tekanan darah tinggi.

 

Dapat Menjadi Masalah Kesehatan Masyarakat

Credit Image - parkview.com

Di zaman sekarang, tak sedikit individu yang lebih memilih mengonsumsi makanan cepat saji, karena praktis, serta rasa yang dianggap lebih nikmat. Tapi sayangnya, masih banyak yang tidak menyadari kandungan garam di dalam jenis makanan tersebut.

Konsumsi garam berlebihan berkontribusi sebesar 10% pada penyakit kardiovaskuler di dunia – yang  menjadi salah satu penyebab utama tekanan darah tinggi. Perkembangan penyakit tersebut sejak usia dini juga makin marak terjadi karena banyaknya konsumsi makanan cepat saji pada remaja.

Mengonsumsi garam sesuai dengan anjuran penting dilakukan guna menjaga kesehatan tubuh. Namun, yang tidak kalah pentingnya untuk mempertahankan kebugaran, kamu juga disarankan rutin mengonsumsi suplemen multivitamin dengan kandungan lengkap, seperti Enervon-C dan Enervon Active.

Pastikan kamu sudah rutin minum Enervon-C yang mengandung Vitamin C, Vitamin B Kompleks (Vitamin B1, Vitamin B2, Vitamin B6, dan Vitamin B12), Niacinamide, dan Kalsium Pantotenat – yang dapat menjaga daya tahan tubuhmu agar tidak mudah sakit.

Multivitamin Enervon-C Effervescent dengan kandungan Vitamin C lebih tinggi, yaitu 1000 mg untuk perlindungan ekstra, sekaligus memberikan sensasi segar sepanjang hari.

Untuk yang punya masalah lambung sensitif, direkomendasikan mengonsumsi Enervon Active yang mengandung non-acidic Vitamin C 500 mg, Vitamin B Kompleks (Vitamin B1, Vitamin B2, Vitamin B6, Vitamin B12), Niacinamide, Kalsium Pantotenat, dan Zinc yang dapat menjaga stamina tubuh agar tak mudah lelah – dan pastinya menjaga imunitas tubuh tetap optimal, berkat kandungan vitamin C dan zinc-nya.

Kandungan vitamin B kompleks dalam Enervon-C dan Enervon Active juga dapat membantu proses metabolisme, sehingga makanan yang dikonsumsi bisa diubah menjadi sumber energi yang lebih tahan lama. Manfaat ini bisa membuat tubuh makin produktif selama beraktivitas.

Untuk mendapatkan sejumlah produk multivitamin Enervon yang asli, pastikan kamu membelinya dari official store di Tokopedia, Shopee, Lazada, dan BukaLapak. Atau dapatkan di drug store dan apotek di daerahmu.

 

Itulah informasi mengenai kandungan garam yang juga bisa menyebabkan “kecanduan” dan beragam dampak buruknya. Untuk menghindari risiko berbahaya tersebut, tetap atur pola makan – dan imbangi dengan gaya hidup sehat lainnya.

 

 

Featured Image – independent.co.uk

Source – idntimes.com