Long Covid Omicron Sebabkan Gampang Capek dan Pelupa, Benarkah?
Saat ini, penularan varian Omicron masih dianggap cukup mengkhawatirkan. Meski banyak pasien yang mengalamiberisiko alami gejala lebih berat hingga kematian. Selain itu, adanya kemungkinan long Covid akibat Omicron juga kerap menjadi pertanyaan.
Dilansir dari IDN Times, gejala berkepanjangan – atau long Covid semakin marak ketika gelombang kedua akibat varian Delta menyerang. Dalam hal ini, pasien sudah negatif tapi gejala-gejala sisanya masih dirasakan.
Selain itu, dikatakan pula bahwa kelelahan dan mudah lupa juga termasuk gejala long Covid Omicron yang paling sering dialami penyintas. Namun, benarkah hal tersebut? Yuk, simak jawaban selengkapnya di bawah ini!
Apa Itu Long Covid?

Credit Image - news-medical.net
Istilah long Covid sejatinya mengarah pada fenomena gejala-gejala yang dialami oleh pasien setelah dinyatakan sembuh. Gejala corona berkepanjangan ini terjadi, karena masih adanya virus yang bertahan di dalam tubuh. Jadi, penyintas pun terus merasakan berbagai gejala.
Kondisi ini cukup sering dialami. Biasanya, pasien memerlukan waktu tambahan untuk rawat jalan. Selain itu, pasien juga perlu memerhatikan berbagai gejala long Covid yang dirasakan, karena bukan tak mungkin hal ini dapat membuat kondisi memburuk dan menyebabkan risiko fatal.
Kelelahan Menjadi Gejala Umum Long Covid
Gejala berkepanjangan umumnya terjadi karena kasus berat yang kemudian menyebabkan badai sitokin. Hal ini dapat berdampak terhadap banyak organ tubuh, mulai dari organ neurologi, kemudian pencernaan, hepar atau hati, hingga jantung.
Adapun gejala yang paling umum pada kondisi ini, yakni kelelahan. Gejala ini dilaporkan di banyak negara – dan survei dari WHO juga menunjukkan hasil serupa, kelelahan menjadi gejala berkepanjangan yang sering dialami.
Selain itu, long Covid juga diikuti dengan gejala respirasi, yaitu batuk dan juga sesak dan ada gejala kardiologi, yaitu berdebar-debar. Bahkan ada juga gejala dari organ THT seperti tiba-tiba ada tinitus, merasa tidak enak di bagian telinga. Maka dari itu, kerusakan pada sistem yang juga perlu waktu pemulihan untuk bisa kembali seperti biasa.
Sulit Fokus dan Gampang Lupa juga Sering Dialami

Credit Image - sisternet.co.id
Hal lain yang mengganggu pada orang yang mengalami long Covid sebenarnya adalah gejala untuk kognitif, seperti susah mengingat sesuatu, perlu konsentrasi, banyak lupa, mood yang berubah-ubah seperti mudah sedih atau gembira hingga juga susah tidur
Namun sayangnya, hingga saat ini, gejala berkepanjangan akibat Omicron tersebut masih jarang ditemui. Pasalnya, Omicron memang tidak separah Delta – tapi, masyarakat tetap tidak boleh menyepelekannya.
Data-data bahwa varian Omicron juga dapat menyebabkan long Covid pun belum dapat disimpulkan secara signifikan. Jadi, dapat dikatakan bahwa kelelahan dan susah berkonsentrasi masih tergolong sebagai gejala long Covid umum, tidak hanya akibat varian Omicron saja.
Penyebab Gejala Berkepanjangan
Para ilmuwan mengungkapkan bahwa kondisi long Covid bisa disebabkan dengan adanya gumpalan kecil yang terperangkap di dalam darah selama berminggu-munggu setelah sembuh dari infeksi virus. Dari studi kecil, ditemukan pula kalau pasien yang mengalami hal tersebut punya sejumlah besar molekul inflamasi yang menyumbat aliran darahnya.
Penyumbatan tersebut berpotensi mengganggu kemampuan tubuh untuk mendistribusikan oksigen dan nutrisi penting. Para ahli memperkirakan hal inilah yang menjadi penyebab umum dari munculnya gejala long Covid, seperti kesulitan bernapas.
Berdasarkan studi yang dilakukan peneliti asal Afrika Selatan ini mengatakan bahwa gumpalan mikro yang ada di dalam aliran darah inilah yang mungkin menjadi penyebab – atau salah satu faktor yang berkontribusi menyebabkan long Covid.
Selain itu, studi lainnya juga ikut mengungkap penyebab di balik gejala berkepanjangan. Studi yang dilakukan oleh Profesor Pretorius dari departemen ilmu fisiologis di Universitas Stellenbosch, membandingkan darah yang dikumpulkan dari 11 orang dengan long Covid dan 13 orang yang sehat.
Fibrinogen merupakan protein yang ditemukan dalam darah dan membantu tubuh membuat gumpalan untuk menghentikan pendarahan. Sementara alpha-(2)-antiplasmin, merupakan molekul yang membantu mencegah penggumpalan darah pecah.
Umumnya, dalam kondisi yang normal tubuh bisa menjaga keseimbangan bahan pembekuan dan anti pembekuan untuk membantu tubuh mengurangi kehilangan darah setelah cedera. Ini juga mencegah gumpalan tumbuh terlalu besar dan membatasi aliran oksigen. Jumlah alpha-(2)-antiplasmin yang tinggi yang terjebak di dalam darah menyebabkan kemampuan tubuh untuk memecah gumpalan sangat berkurang.
Hindari Penularan Virus, Lakukan Langkah Ini!

Credit Image - halodoc.com
Dalam penyakit apapun, istilah lebih baik mencegah daripada mengobati memang benar adanya. Ini pun berlaku pada Covid-19. Jadi, lakukan langkah pencegahan – dengan menerapkan protokol kesehatan, yaitu memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas.
Optimalkan perlindungan diri dengan menerapkan pola hidup sehat, seperti Enervon Active dua kali sehari.
Konsumsi Enervon-C yang mengandung Vitamin C, Vitamin B Kompleks (Vitamin B1, Vitamin B2, Vitamin B6, dan Vitamin B12), Niacinamide, dan Kalsium Pantotenat – yang dapat menjaga daya tahan tubuhmu agar tidak mudah sakit.
Minum Enervon-C Effervescent dengan kandungan Vitamin C 1000 mg untuk perlindungan ekstra, serta mampu memberikan sensasi rasa segar sepanjang hari.
Bagi yang memiliki lambung sensitif, direkomendasikan untuk mengonsumsi Enervon Active – yang mengandung non-acidic Vitamin C 500 mg, Vitamin B Kompleks (Vitamin B1, Vitamin B2, Vitamin B6, Vitamin B12), Niacinamide, Kalsium Pantotenat, dan Zinc yang dapat bantu menjaga imun tubuh, sekaligus mengoptimalkan stamina agar tak mudah lelah.
Tak hanya membantu menjaga kekebalan saja, namun kandungan vitamin B kompleks dalam Enervon-C dan Enervon Active juga dapat membantu proses metabolisme, sehingga makanan yang kamu konsumsi dapat diubah menjadi sumber energi yang lebih tahan lama. Jadi, tak perlu khawatir tubuh mudah merasa lemas.
Jadi, bisa dikatakan bahwa gejala berkepanjangan berupa kelelahan dan mudah lupa dapat dialami oleh penyintas yang terpapar varian apa saja, baik strain asli, varian Omicron, maupun Delta. Untuk menghindari risiko long Covid, ada baiknya kamu menghindari paparan virus sejak awal, ya. Terus lakukan prokes – dan jaga kekebalan tubuh agar tidak mudah sakit!
Featured Image – fimela.com
Source – idntimes.com





