Hipertensi pada lansia adalah hal yang lumrah terjadi. Kenapa bisa demikian? Hipertensi atau tekanan darah tinggi sendiri merupakan peningkatan tekanan darah pada arteri secara persisten atau melebihi batas normal. Pengukuran tekanan darah biasanya terdiri dari dua macam yaitu sistolik/angka atas dan diastolik/angka bawah. 

Seseorang dinyatakan mengalami hipertensi apabila tekanan darah sistoliknya di angka ≥ 140 mmHg dan tekanan darah diastolik mencapai ≥ 90 mmHg. Nah untuk mengantisipasi hal ini, yuk simak bagaimana ciri-ciri dan tips mengelola tekanan darah tinggi pada lansia dalam artikel berikut.

Kenapa Lansia Rentan Hipertensi?

Tingginya tekanan darah pada lansia dikaitkan dengan proses penuaan yang terjadi pada tubuh. Semakin bertambah usia, sistem vaskular seseorang bisa mengalami perubahan. Di pembuluh darah, terjadi pengurangan jaringan elastis di arteri, sehingga menyebabkannya menjadi lebih kaku. 

Akibatnya, tekanan darah akan meningkat. Itulah mengapa risiko seseorang mengalami hipertensi semakin meningkat seiring bertambahnya usia. Namun, terdapat beberapa faktor lain yang memicu hipertensi pada lansia sebagai berikut.

1. Faktor Genetik atau Turunan

Hipertensi juga bisa terjadi karena faktor keturunan. Dengan kata lain, keluarga dengan riwayat hipertensi berpeluang besar untuk menurunkannya ke generasi selanjutnya.

2. Gaya Hidup

Selain faktor usia, gaya hidup juga menjadi penyebab hipertensi pada seseorang. Misalnya saja terlalu banyak konsumsi garam, jarang berolahraga, serta tidak berusaha menjaga berat badan yang berujung obesitas.

3. Kebiasaan Merokok dan Minum Alkohol

Jika kamu punya kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol, sebaiknya segera hentikan habit tersebut karena bisa meningkatkan tekanan darah.

4. Memiliki Riwayat Penyakit Tertentu

Masalah kesehatan tertentu juga bisa membuat seseorang terkena hipertensi, misalnya saja seperti sakit ginjal, gangguan tiroid, atau gangguan tidur.

 

 

Ciri-Ciri Hipertensi pada Lansia

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa tekanan darah tinggi terjadi saat angkanya mencapai lebih dari 140/90 mmHg. Hal ini umumnya juga disertai dengan berbagai gejala seperti pusing, penglihatan kabur, kesulitan bernapas, nyeri dada, mual, detak jantung tidak teratur, telinga berdenging, kelelahan, terjadi pendarahan di hidung, dan lain-lain.

Jika mengalami ciri-ciri tersebut, segera konsultasikan hal ini kepada dokter. Untuk memastikan diagnosis, biasanya pasien akan menjalani pemeriksaan tekanan darah, tes darah, hingga pemindaian EKG.

 

 

Tips Mengelola Hipertensi pada Lansia

Hipertensi pada lansia tidak boleh dianggap remeh karena bisa menyebabkan komplikasi serius seperti stroke, kebutaan, kerusakan ginjal, sakit jantung, hingga demensia. Oleh sebab itu, kelola tekanan darah tinggi supaya tidak semakin parah dengan menerapkan beberapa tips berikut.

1. Ubah Pola Makan

Cara pertama yang bisa dilakukan untuk mengelola hipertensi yaitu dengan mengubah pola makan. Usahakan untuk mengurangi makanan berlemak dan tinggi garam. Sebaliknya, perbanyak makan buah, sayur, dan biji-bijian yang kaya akan serat.

2. Menjaga Berat Badan Tetap Ideal

Selain mengubah pola makan, lansia juga wajib menjaga berat badan supaya tetap ideal. Hal ini bisa dilakukan dengan menerapkan gaya hidup sehat seperti konsumsi makanan bergizi, rajin berolahraga, menghindari stres, dan sebagainya.

3. Lakukan Aktivitas Fisik

Meskipun mobilitas lansia cukup terbatas, tapi hal ini tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak berolahraga. Justru, aktivitas fisik sangat bermanfaat bagi jantung terutama saat memompa darah. 

Beberapa jenis aktivitas fisik yang bisa dicoba seperti berjalan kaki, melakukan pekerjaan rumah, atau berkebun. Usahakan untuk aktif bergerak setiap hari minimal selama 20 hingga 30 menit.

 

 

4. Hindari Alkohol dan Kafein

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa konsumsi alkohol berisiko menimbulkan tekanan darah tinggi. Sama halnya dengan alkohol, minuman yang mengandung kafein seperti kopi bisa meningkatkan tekanan darah, sehingga lebih baik dihindari.

5. Relaksasi atau Meditasi

Lakukan relaksasi atau meditasi untuk mengelola stres pada lansia. Latihan relaksasi otot progresif merupakan salah satu cara yang efektif dalam menurunkan tekanan darah karena aliran darah dan pasokan oksigen akan meningkat ke dalam otot-otot dan rangka yang aktif khususnya terhadap otot jantung.

6. Cek Tekanan Darah secara Rutin

Tips mengelola hipertensi pada lansia berikutnya adalah dengan mengecek tekanan darah secara rutin. Selain menguji efektivitas obat hipertensi yang diminum, hal ini juga meminimalkan risiko terkena komplikasi.

7. Mengonsumsi Obat Hipertensi dengan Teratur

Bagi lansia yang menjalani rawat jalan, sebaiknya selalu taat untuk mengonsumsi obat hipertensi sesuai anjuran dokter. Namun, apabila obat yang diminum menimbulkan efek samping tertentu seperti mual, muntah, atau pusing, jangan ragu untuk segera berkonsultasi ke dokter terkait.

 

 

Selain memahami beberapa tips mengelola hipertensi pada lansia di atas, sebaiknya imbangi dengan mengonsumsi multivitamin tambahan guna memelihara kesehatan tubuh di usia emas. Pastikan hanya memilih Enervon Gold yang mengandung vitamin C dan B-Kompleks, asam folat, omega-3, dan lutein. 

Kandungan vitamin C dan B-Kompleks di dalamnya berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan pembentukan energi. Omega-3 berfungsi untuk menjaga kesehatan otak dan asam folat akan bantu jaga kesehatan jantung pada lansia. Tak hanya itu saja, kandungan lutein di dalam Enervon Gold juga bermanfaat untuk mendukung kesehatan mata.

Ayo segera belanja produk Enervon Gold sekarang juga secara online melalui Tokopedia atau Shopee dan buktikan sendiri manfaatnya untuk kesehatan tubuh!

 

Referensi:

1. Kemenkes RI. Hipertensi pada Lansia. https://ayosehat.kemkes.go.id/topik-penyakit/pencegahan-infeksi-pada-lansia/hipertensi-pada-lansia 

2. Ann Pietrangelo. Is High Blood Pressure in Older Age Inevitable? https://www.healthline.com/health-news/high-blood-pressure-in-older-age-ways-to-lower-risk#Monitoring-blood-pressure